BAB I
PENDAHULUAN
BENCANA SOSIAL
Suatu Kajian Teologis-Sosiologis Tentang Fenomena Kehidupan Manusia dalam Erang Bencana Sosial Di Jemaat To’kalo’
A. Latar Belakang Masalah
Dari edaran waktu yang tak tertunda, ribuan tahun telah berlalu dalam segala bentuk iklim peradaban manusia semua terkemas dalam satu tujuan mewujudkan damai sejahtera. Manusia sebagai makhluk hidup yang mulia sekaligus sebagai “Mahkota Ciptaan”[1] mempunyai dimensi kerohanian atau yang disebut sebagai manusia “menurut gambar” dan “rupa Allah”: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita,…” (Kej. 1:26, bnd Kej. 5:1 ; 9:6).
Allah mengangkat manusia dari seluruh ciptaan-Nya dan memberikan mandat kepadanya agar dapat bertanggung-jawab dihadapan Allah. Kuasa yang diberikan itu dinyatakan “taklukanlah bumi, berkuasalah atas segala ….” (Kej. 1:28). Manusia diberi tugas untuk menata hidup baru, mengelolah alam dan memeliharanya. Allah menempatkan manusia pertama dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara tanah itu (Kej. 2:15). Disinilah sumber kebudayaan atau sumber kerja manusia yang pertama.[2] Kehidupan menusia berawal dalam suasana yang sangat damai (bnd. Kej. 1:26-30). Dalam perkembangannya, manusia yang diciptakan dengan anugerah kebebasan itu justru menyalahgunakan dan memanfaatkannya untuk melawan kehendak Allah.
Dalam keunikannya sebagai makhluk bebas yang berakal dan berbudaya mestinya ia berperan lebih positif, yaitu peran yang berakibat dan bertujuan memelihara serta mempertahankan keseimbangan dan kelestarian alam, keharmonisan dengan sesama manusia. Tetapi, kecenderungan manusia memilih normanya yang baru yakni ”keuntungan” dan ”kenikmatan”.
Dari ”Keuntungan” dan ”kenikmatan” itulah melekat segala bentuk akar dari bencana Sosial yang lebih menyayat hati dari pada penderitaan akibat bencana alam. Dalam Alkitab-pun dikatakan bahwa keserakahan, ketamakan dan keinginan manusia untuk sama dengan Sang pencipta merupakan awal bencana kehidupan manusia. Alam tak lagi bersahabat (Lih. Kej. 3:17), interaksi menusia dengan sesama dipenuhi dengan iri dan dengki (Kej. 4) dan ironisnya adalah hubungan manusia dengan Allah putus.
Dalam bayang-bayang ketidak berdayaan, keputusasaan dan ketakutan akibat bencana sosial, pergumulan iman percaya kepada Tuhan semakin menjadi pergumulan. Dari realitas itulah manusia yang dengan anugerah akal dan pengetahuan mengembangkan berbagai cara untuk menghadapi tantangan tersebut. Namun rupanya dari segala upaya manusia itu tidak cukup untuk membawa damai sejahtera diantara manusia, justru melahirkan bencana-bencana susulan yang mengerihkan. Tetapi oleh kasih Allah manusia diampuni dengan mengorbankan Anak tunggal-Nya yakni Yesus Kristus.
Tetapi, tidak dapat juga dipungkiri bahwa dalam kenyataannya manusia yang dikasihi itu, masih saja lari jauh dari kehendak-Nya. Manusia seakan-akan buta atau berpura-pura tidak mau melihat kenyataan yang telah terjadi. Menyedihkan lagi lembaga-lembaga keagamaan yang telah dipercaya juga menjadi “pelaku utama” bencana sosial itu. Dan ironisnya gerejapun tidak belajar dari pengalaman masa silam bahwa ketidakpatuhan manusia kepada Sang Pencipta adalah bencana bagi manusia itu sendiri.
Kepahitan dari berbagai belenggu bencana alam yang merenggut kesejahteraan manusia merupakan efek dari bencana sosial. Dalam pada itu, sejauh ini gereja hanya sibuk menciptakan berbagai bentuk teologi, memperdebatkannya dan mencetak teolog-teolog handal tanpa tindak nyata bagi sesama manusia maupun alam. Ketidak pedulian kita terhadap sesama ciptaan adalah juga merupakan bencana sosial yang pasti akan melahirkan berbagai bencana alam yang begitu menakutkan dan mengerihkan. Parahnya lagi bila komunikasi dengan Tuhan menjadi topeng untuk menutupi segala kebusukan dan ketamakan.
Problem yang paling mendasar dihadapi orang-orang beriman di tengah keyakinan khususnya orang Kristen di jemaat To’kalo’ adalah bagaimana suatu teologi mendefenisikan dirinya ditengah erang bencana sosial (misalnya: judi, seks bebas, pencurian, kemiskinan, pengangguran dsb). Itulah konteks yang melatar belakangi penulisan ini. Pertanyaan pokok yang mendasari penulisan ini adalah apakah partisipasi gereja dalam kehidupan bermasyarakat dapat menjawab setiap tantangan yang dihadapi oleh masyarakat, Bagaimana membangun teologi dalam konteks yang seperti itu agar iman tetap dinikmati oleh warga? Atau apakah gereja menutup perhatian dan berjalan sendiri di samping bencana sosial? Persoalan inilah yang menggugah hati penulis untuk mencoba menggores sebuah tulisan berjudul Bencana Sosial di tengah pergumulan iman khususnya di Gereja Toraja Jemaat To’kalo’ Klasis Mengkendek Selatan.
Rumusan masalah
Bertolak dari latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang penulis bahas adalah:
1. Bagaimana berteologi dengan benar dan seperti apa gereja bereksistensi dalam konteks bencana sosial?
2. Begaimana implikasi bencana sosial dalam pergumulan iman warga Jemaat?
Hipotesis
Apapun dan bagaimanapun bentuknya, bencana akan membuat hidup seseorang menderita. Karena Bencana orang tidak memiliki kesejahteraan bahkan kesejahteraan yang sudah ada lenyap oleh bencana. Dalam akar-akar bencana sosial selalu didapatkan kejahatan dan kerakusan manusia, struktur masyarakat yang tidak adil, serta penyalagunaan kekuasaan.
Menanggapi masalah di atas penulis mengambil kesimpulan yang dalam hal ini masih dalam tataran hipotesa bahwa bencana sosial sangat dipengaruhi oleh kurangnya akses pelayanan gereja dan tingkat pendidikan yang masih di bawah standar.
Batasan Masalah
Demi tercapainya pemahaman yang komprehensif, maka penulis membatasi masalah dalam tulisan ini. Adapun masalah yang hendak diberi batasan adalah berjudul Bencana Sosial di tengah pergumulan iman khususnya di Gereja Toraja Jemaat To’kalo’ Klasis Mengkendek Selatan. Bencana sosial yang dimaksud dalam tulisan ini adalah segala bentuk keputusan dan tindakan manusia yang tidak sesuai dengan kaidah atau norma-norma kehidupan bermoral serta tindakan-tindakan yang terjadi sebagai akibat dari penyimpangan tersebut.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan adalah:
1. Ingin mengetahui cara berteologi dengan benar dan bagaimana gereja eksistensi dalam konteks bencana sosial?
2. Untuk mengetahui implikasi bencana sosial bagi warga jemaat dalam pergumulan iman?
Signifikansi Penelitian
a. Signifikansi Akademik
Dapat memberikan sumbangan bagi lembaga teologi dalam mengembangkan ilmu teologi khususnya dalam bidang Teologi-sosial.
b. Signifikansi Praktis
a. Dapat menjadi motivasi bagi masyarakat atau gereja untuk mengerti pentingnya kesadaran diri untuk hidup saling bergandengan tangan demi kesejahteraan bersama.
b. Dapat menambah pengetahuan penulis tentang fenomena-fenomena sosial yang terjadi.
Defenisi Istilah
Untuk memperjelas judul serta pembahasan-supaya terfokus dan terarah, maka penulis menulis memberikan batasan-batasan pengertian sebagai berikut:
- Penelitian
Menurut David H. Penny, penelitian adalah pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.[3]
- Kajian
Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan arti, hasil dari; ”belajar, mempelajari, memeriksa, memikirkan, menguji, menelah”.[4] Kajian menurut penulis yaitu suatu proses eksplorasi, Pemeriksaan atau penyelidikan secara mendalam terhadap suatu problem.
- Implikasi
Implikasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti ”keterlibatan atau keadaan terlibat”.[5]
- To’kalo’
Sebuah nama dusun yang sekaligus menjadi nama jemaat di kecamatan mengkendek selatan yang sekarang beralih nama menjadi kecamatan Gandangbatu-Sillanan.
Metode Penelitian
Dalam pencapaian penelitian ini, metode penelitian yang dipakai adalah: metode Pustaka, observasi dan metode wawancara.
Sistematika Penulisan
Skripsi ini terdiri dari lima (5) BAB dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I, Pendahuluan, Meliputi: Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Hipotesis, batasan masalah, Tujuan Penelitian, Signifikansi Penelitian, pengertian istilah, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan.
BAB II, Gumul Iman Dalam Lingkaran Bencana Sosial, Bencana Sosial yang meliputi Pengertian, Manusia Sebagai Makhluk Sosial, sifat-sifat bencana sosial (bersifat langsung dan tidak langsung), persfektif Bencana Sosial Secara Umum, Kesaksian Alkitab tentang Bencana Sosial (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), Posisi Gereja dalam Masyarakat.
BAB III, Metode Penelitian Meliputi: sekilas mengenai jemaat To’kalo’ (Sejarah Singkat Jemaat T’kalo’, Letak geografis, pendidikan, Mata pencaharian), Jenis penelitian (Pustaka, Observasi dan Wawancara), Teknik pengumpulan data (Populasi dan sampel), Metode Pengumpulan Data, Instrumen penelitian dan Teknik anslisis data.
BAB IV,Bab ini meliputi pemaparan hasil Penelitian dan menyajikan analisis tentang hasil penelitian yang dikaji berdasarkan bangunan teori dalam BAB II
BAB V, Kesimpulan dan saran-saran.
[1] Kobong, Th.Dr., “Carilah Tuhan Maka Kamu Akan Hidup” Dalam Bahan Pemahan Alkitab Dan Pekan Doa, Menyongsong SR XIII PGI, (diterbitkan: Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia dan BPK Gunung Mulia, Jakarta. 2000), hlm. 37
[2] Bnd, Sitompul A.A. Dr., Masyarakat dan Budaya, Teologi Antropologi
( Jakarta, BPK. Gunung Mulia. 1991) Cet. 1. hlm. 3
[3] Fo’arota Telaumbanua, Pengelolahan Data Penelitian Perbandingan dan Hubungan, Jakarta. FKUI-UKI 2005, Cet. II. Hal. 2
[4]KBBI hlm. 431
[5]KBBI hlm. 347
