senyummu semangatmu
Tersenyum, betapa mudahnya hal ini dilakukan. Hanya butuh
sedetik untuk merubah bentuk bibir menjadi senyum. Dan hanya butuh
tujuh detik mempertahankan sang senyum untuk terlihat sebagai ungkapan
ketulusan hati.
Tetapi kenapa hal sederhana ini jarang terlihat? Wajah-wajah di
jalan, di angkutan umum, di kantin, di kantor, bahkan di tempat wisata
yang seharusnya menjadi kebun senyum, justru terlihat buram.
Kerutan-kerutan di wajah menunjukkan betapa berat beban yang harus
ditanggung wajah-wajah itu. Banyak wajah yang daerah diantara dua
matanya mengkerut. Menyeramkan dan tampak garang. Duh..
Mengeja baris demi baris yang tertulis di rubrik muda Majalah
Annida Akhir Oktober 2002 (Gatot Wahyudi: Pemenang I Remaja Berprestasi
Annida 2002), air mata meleleh di pipi. Haru dan kagum padanya sekaligus
juga malu pada diri sendiri. Haru dan kagum atas ketegarannya, malu
karena sering merasa menjadi orang paling merana di dunia. Saat yang
sama, semangat pun terbangun, untuk meneladaninya.
Laki-laki muda dengan segudang prestasi di tingkat lokal maupun
nasional itu ternyata hidup serba berkekurangan. Terlahir dari keluarga
sangat sederhana. Bahkan sempat menggelandang bersama sang bapak ketika
usianya masih sangat belia: 3 tahun. Sewaktu SMU, ia dua tahun tidur di
sekolah demi mengirit ongkos perjalanan, karena jarak rumah dan sekolah
lebih dari 20 km sedang alat transportasi tiada. Terbiasa puasa senin
kamis, saat kuliah memilih puasa daud demi menghemat biaya makan namun
tetap bisa makan teratur. Pernah 21 hari tak makan nasi, karena duit di
kantong sudah sangat menipis.
Namun dia menjalani semuanya dengan ringan. Senyum ceria selalu
menghiasi bibirnya -seperti yang tampak di semua photo yang menghiasi
halaman itu- hingga hampir tak ada dari teman-temannya yang tahu akan
kehidupan kesehariannya. Senyum itu juga tetap merekah, ketika tak
sengaja saya berkesempatan beberapa jam bersamanya dalam sebuah acara.
Riang, penuh canda, tanpa beban.
“Senyum”. Satu kata ini sederhana dalam segala hal, namun memberikan kekuatan yang tak terkira.
Dalam hal pelaksanaan, senyum adalah aktifitas sederhana untuk
dilakukan. Hayo, siapa sih orang hidup di dunia ini yang tak bisa
tersenyum? Orang miskin maupun kaya pun bisa tersenyum, karena senyum
tak membutuhkan modal, kecuali niat dan ketulusan hati. Manusia pinter
dan tidak pinter sama-sama bisa tersenyum karena untuk bisa tersenyum
tak perlu sekolah. Sejak kita lahir, orang-orang di sekeliling kita
telah menyambut kita dnegan senyum lebar, sekaligus mengajarkannya pada
kita. Sakit atau sehat, cacat ataupun normal, semua orang masih bisa
tersenyum, karena ia tak membutuhkan usaha luar biasa. Cukup menarik
kedua ujung bibir ke atas sedikit. Kecuali jika sakit dan cacatnya
seputar mulut.
Secara fisik, tersenyum dapat membuat kita selalu dalam kondisi
riang. Bobby De Porter dalam bukunya Quantum Learning mengatakan bahwa
sikap tubuh seseorang dapat mempengaruhi perasaan atau mood seseorang
sebagaimana perasaan juga mempengaruhi sikap tubuh seseorang. Ayo kita
coba. Anda sedang sedih atau marah. Kemudian usahakan menarik ujung
kedua bibir anda keatas, membentuk sebuah senyuman. Dan tanyakan pada
hati anda dengan jujur: Apakah anda masih tetap merasa sedih seperti
semula?. Saya percaya, setidaknya perasaan anda tidak seblue sebelumnya.
Kemudian cobalah sebaliknya. Anda sedang berperasaan biasa saja atau
bahkan tengah riang dan gembira. Kemudian duduklah dengan bahu merunduk.
Bungkam mulut anda dan kerucutkan. Maka tiba-tiba anda akan merasa
sedih. Nah, kenapa kita tidak gunakan sikap tubuh untuk mempengaruhi
kondisi mental dan jiwa kita? Menyikapi segala sesuatu dengan senyum,
insya Allah segalanya akan ringan.
Kata Emha Ainun Najib dalam buku ‘Mati Ketawa ala…” orang yang selalu
riang dan suka tertawa sulit dimasukin jin dan setan, karena aura tubuh
mereka yang rileks tidak menyenangkan bagi jin. Makhluk ini lebih suka
memasuki tubuh orang yang suka melamun, berdiam diri dan menyendiri dan
selalu bersedih hati.
Dalam hal makna, senyum juga bermakna sederhana. Mendengar kata
“senyum”, pasti yang terbayang pertama kali adalah wajah manis penuh
keramahan dan cinta (Kecuali kalau dibelakang kata itu diberi
embel-embel ‘sinis’, ‘sarkastis’ dan lain-lain).
Senyum bisa menjadi pembuka komunikasi. Pun senjata jika kita sedang
grogi. Senyum adalah bahasa dunia. Jika kita tak saling mengerti bahasa
lawan bicara, meski tak saling sapa, senyum sudah cukup menjadi isyarat
persahabatan. Senyum akan mencairkan kekakuan. Hingga ketegangan di
antara dua sahabat pun terlelehkan. Hingga kemarahan pun padam, dan
cinta serta aura kedamaian tersebar dalam sebuah kelompok, lingkungan
dan komunitas.
Bahkan Rasulullah pernah bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu
adalah sedekah”. Ah, alangkah indahnya. Betapa damainya, betapa
menyenangkan. Karena kita bisa beramal dan bersedekah, tanpa harus
memiliki sesuatu yang besar. Cukup satu hal sederhana. Senyum penuh
cinta, penuh ketulusan.
Senyum adalah solusi sederhana. Terhadap kepedihan pribadi,
kesedihan keluarga, luka masyarakat dan juga nestapa dunia. Lalu,
mengapa kita tidak tersenyum saja? Agar perjalanan lebih ringan. Agar
persahabatan lebih menyenangkan. Agar dunia lebih damai. Agar hidup
lebih nyaman. Dan tanpa kita sengaja, kita telah berkontribusi terhadap
perdamaian dunia. Alangkah indahnya
semoga bermanfaat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar